-->

Mengapa COVID-19 di Indonesia Bisa Terjadi Begitu Cepat ?

Photos By Me

Semenjak tahun 2019 virus COVID-19 sudah mulai terdeteksi tepatnya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan desember lalu, hingga sekarang melanda keseluruh penjuru dunia, baik yang di asia maupun eropa, ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020.

Hingga 22 Maret 2020 Pukul 14:51, tercatat 308.257 Kasus yang dikonfirmasi WHO, dengan kasus yang masih aktif 199.361 orang, 95.828 kasus yang pulih dan 13.068 kasus yang fatal.

Kasus kematian ini terbesar terjadi di Tiongkok, Italia, Iran, dan Korea Selatan. COVID-19 terdeteksi di Indonesia pada tanggal 2 Maret lalu dengan 2 pasien, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun, hal ini awalnya membuat masyarakat kaget serta panik untuk tetap waspada dari virus ini, sehari setelahnya warga berbondong-bondong ke swalayan dan minimarket untuk berbelanja kebutuhan makanan yang akan mereka siapkan nanti sewaktu virus ini sudah menyebar ke beberapa wilayah.
Polemik-pun kian terjadi dimana hal ini menimbulkan rush market yang menyebabkan stok barang habis terjual kosong di lemari penjualan market dan juga mall.

Alhasil banyak yang mengatakan tindakan ini berlebihan karena hanya terjadi pada satu daerah saja, dan sampai saat ini menyebar ke beberapa wilayah lain termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Bali.

Dan akibatnya Presiden Jokowi menerapkan karantina di rumah masing-masing per-tanggal 16 Maret 2020. Semua ketakutan akan wabah ini, karena COVID-19 tidak pandang bulu untuk menggerogoti siapapun, termasuk tua atau muda, sehat atau tidak sehat, siapapun yang terjangkit hanya akan ada kemungkinan, Sembuh Atau Mati.

Mengapa ini bisa terjadi ?

Agaknya kita harus menilik kembali kebijakan pemerintah sebelumnya yang pada februari lalu menganggap sepele kasus ini, dengan anggapan COVID-19 tidak akan bisa masuk ke Wilayah RI, ditambah pernyataan Menteri Kesehatan Agus Terawan "Ya Harvard suruh ke sini. Saya suruh buka pintunya untuk melihat. Tidak ada barang yang ditutupi," ujar Terawan di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/2).

Padahal sebelumnya Harvard meragukan progress dari Kementerian Kesehatan karena di Indonesia belum mampu mendeteksi virus Corona menyebabkan COVID-19 belum diketahui.

Ini bersamaan dengan lambannya kinerja presiden untuk mengantisipasi hal ini sejak awal mulai dari masih membuka akses masuk luar negeri, minimnya pemeriksaan kesehatan lanjutan, lamban untuk mengkarantina seluruh masyarakatnya.
Hal ini pula disertai dengan segala aktivitas masyarakatnya yang sejak ditetapkan tanggal 16 Maret 2020 untuk belajar dirumah, bekerja dirumah dan ibadah dirumah, masih saja melakukan aktivitas berkumpul di warung kopi dan sejenisnya, alhasil virus ini tetap melaju ke beberapa daerah lagi yang saat ini sudah merambah ke daerah lain, seperti Jawa Timur dan Yogyakarta.

Hal skeptis juga masih terlihat di perlakuan masyarakatnya yang masih saja menyelanggarakan acara-acara besar, dengan prinsip pasrah dan menganggap wabah ini dengan sepele, anggapan-anggapan ini yang berpeluang menjadi ancaman untuk masyarakat Indonsia, sebab mengingat negara eropa di Italia menganggap kasus ini biasa saja, sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan, akhirnya pada sampai hari ini Italia merupakan negara dengan kasus terbesar kedua setelah Tiongkok, berita kematian pun kian mencuat tak henti dan terus bertambah seiringnya berganti hari.

Inilah yang bisa saja terjadi pada Indonesia, jika masyaratnya masih saja skeptis dengan hal ini, yang dimana mungkin saja 14 hari yang ditetapkan pemerintah untuk karantina dirumah masing-masing terasa sia-sia, sebab kasus hanya akan terus bertambah seiring doktrin masyarakatnya yang menganggap kasus ini lemah, perlu dorongan dari pemerintah dan kolaborasi antar masyakat serta perlu adanya kerja sama, sehingga dapat menekan laju pertumbuhan curva yang saat ini masih tinggi.

Akhir kata saya berpesan untuk terus bekerja sama, baik pemerintah dan juga golongan masyarakat, sebab tanpa hal tersebut karantina kita selama ini hanya sia-sia dan tidak membuahkan hasil seperti apa yang kita inginkan. Bantuan terus datang dari sesama, baik bantuan berupa materil dan imateril. Bantuan ini di galangkan oleh masyarakat melalui donasi.

Semoga COVID-19 ini secepatnya mereda dan warga dunia khususnya masyarakat indonesia dapat menghirup angin segar kembali.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mengapa COVID-19 di Indonesia Bisa Terjadi Begitu Cepat ?"

Post a Comment

Subscribe Newsletter

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel